DIBALIK SEJARAH GEDUNG GRHA WISMILAK

Gedung Wismilak (1920-an), Pra Kemerdekaan RI.

Foto Tahun 1924

1920 -1936

Grha Wismilak berdiri di pojok jalan Raya Darmo 36 dan Jl. Dr. Soetomo 27 Surabayaa. Sampai saat ini belum diketahui sang arsitekturnya. Namun diperkirakan dibangun sekitar tahun 1920. Itu tampak dari foto dari kartu pos terbitan Jong Soe Hien. Gedung tersebut di pojok perempatan Darmo Boleuvaard dan Coen Boulevaard. Nama Coen diambil dari Jan Pieterszoon Coen   Gubernur-Jenderal Hindia-Belanda yang keempat dan keenam. Pada masa jabatan pertama ia memerintah antara tahun 16191623, masa jabatan yang kedua berlangsung antara tahun 16271629.

Menurut Buku Telepon tahun 1929 yang dilacak Nico Van Horn, Archivaris Royal Netherlands Institute of Southeast Asia and Caribbean Studies dari  KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) Leiden, Negeri Belanda , Coen Boulevard 27 (sekarang Jl. Dr. Soetomo 27 Surabaya) dimiliki oleh Paul  Alexander Johannes WILHELM BRANDENBURG VAN DER GRONDEN.  Ia adalah seorang makelar gula  firma G.L. SIRKS & Co.

Sementara itu, Darmo Boulevard 36 (sekarang Jl. Raya Darmo 36)  dimiliki oleh  WILLEM  HUGO  LODEWIJK SAVELKOUL.  Savelkoul adalah pemilik  dan kepala firma Savelkoul. Keluarga tersebut memiliki beberapa toko pakaian pria (termahal) di kota Amsterdam dan  Batavia.

1936 -1942 :  Disewa  Toko Yan

Grha Wismilak merasa beruntung, karena salah satu pelaku sejarah gedung ini masih ada. Ia adalah Pak Oei Hian Hwa.  Memang saat ini beliau tidak muda lagi, dan sudah  berusia 96 tahun. Tetapi semangat dan daya ingatnya tidak pudar. Dengan digandeng cucu dan kadang tongkat, beliau menyusuri tangga demi tangga Grha Wismilak penuh semangat untuk bercerita tentang gedung ini.

Saat itu, 1936, Pak Oei Hian Hwa berusia 22 tahun. Menurutnya Grha Wismilak dahulu   adalah Toko Yan, cabang dari Toko Piet  (kemudian menjadi Toko Metro) di jalan Tunjungan. “Gedung ini dulu yang  ada di loteng 26 orang, sebab dibuat mess pegawai toko Piet dan Toko Yan, khusus yang tidak punya rumah tangga, termasuk saya. Di sini ada empat kamar dan di bagian depan dipakai untuk main ‘ping-pong’ sedangkan di bawah untuk toko, sedangkan halaman samping untuk badminton,” terang Pak Oei Hian Hwa. Sebagai pegawai administrasi, sepengetahuannya, Toko Yan  menyewa secara bulanan dari seorang bernama Han Sing Kien di Jl. Ngemplak yang saat ini menjadi markas Garnisun Kota Surabaya.

Dengan rinci Pak Hian Hwa menjelaskan dengan sebuah peta yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Beberapa waktu sebelum Jepang masuk ke Surabaya di tahun 1942, toko Yan ditutup. Barang-barang yang masih ada dibeli secara ‘bon’ oleh bangsa Belanda di sekitar Coen Boulevard (Jl. Dr. Soetomo sekarang). “Sisanya, kata pemilik, boleh diambil oleh pegawai di situ. Sampai sebuah bom dijatuhkan pesawat Jepang di Tegalsari, Tunjungan dan Ngagel. Di situ baru terasa orang, kacaunya bukan main. Listrik trem tidak jalan, taksi ndak ada, tidak ada becak, semua naik sepeda,” kenang Pak Oei Hwa. Kemudian ia pindah ke Bothstraat (sekarang Jl. Wahidin, Surabaya).

Suasana di sekitar Coen Boulevard 1936-1942

Pak Hian Hwa ingat bahwa di depan Toko Yan ada halte trem listrik. “Yang dari arah kebun binatang di seberang jalan, sedangkan dari arah Jl. Urip Sumoharjo sekarang, ada di depan gedung. Sedangkan di ‘boulevard’ tertanam bunga bougenvile.

“Di sekitar gedung, di Jalan Darmo sekarang dulu ada toko sepatu dan laundry milik orang Cina. Lalu ada toko atau rumah kaca Smith. Itu ada dua macam. Kalau malam buat tempat dansa kalau siang toko bunga Martha. Kebiasaan orang Belanda dulu abonemen bunga. Jadi setiap hari ada bunga di meja yang fresh,” kenang Pak Hian Hwa. “Sedangkan bila mau istirahat orang Belanda di tempat yang sekarang rumah sakit Darmo. Dulunya tempat itu bukan rumah sakit,” jelasnya.

Yang menarik adalah adanya lampu jalan dari gas. “Kalau menyalakan, cukup dengan bambu panjang. Jadi sambil naik sepeda, lampu itu di pukul, dan kemudian menyala. Di depan toko di ujung jalan (sekarang pos polisi) ada pom bensin,” katanya sambil tersenyum.

Pak Hian Hwa pun sampai di tangga kayu. “Dulu kalau naik turun bisa berkali-kali dalam sehari. Sering-sering dengan sambil berlari, ujarnya mengenang.

Setapak demi setapak ruangan dikenang Pak Oei Hian Hwa. “Di sini adalah kamar saya dulu. Saya tidur di situ. Di belakang kamar ini dulu ada kamar mandi dan toilet jongkok,” katanya sambil menunjuk. “Daun pintu dan jendelanya memang bersirip seperti sekarang. Tapi lantai kayunya kok sudah bersih ya…,” Memang, setelah dipugar lantai kayu di lantai dua dipoles ulang.

Pada saat Surabaya jatuh ke tangan Jepang, sejak 1942 gedung tersebut diambil alih dan  difungsikan sebagai kantor polisi Jepang.

Begitu seterusnya, pada saat pasca kemerdekaan pun, kepolisian Indonesia meneruskannya menjadi kantor.

Pasca Kemerdekaan RI tahun 1945 – 1993

Pada tanggal 21 Agustus 1945 Polisi Istimewa Surabaya (Tokubetsu Keisasutai) dipimpin komandan Inspektur Polisi Moh. Jasin memproklamirkan diri sebagai Polisi Republik Indonesia. Menurut Ultimatum Jenderal Mansergh Arek-arek Surabaya diharuskan meletakkan senjata-senjata yang dirampas dari Jepang di muka gedung ini.”.

“Bangunan Cagar Budaya sesuai SK Walikota  no. 188.45/251/402.104/1996 No. Urut 32. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya Tahun 2008.”

Demikian tertulis di prasasti  ruang lobby Grha WISMILAK.  Pada umumnya warga Surabaya mengenal Grha Wismilak sebagai bekas kantor polisi. Anggapan tersebut tidak salah. Pasalnya  gedung tersebut memang memiliki nilai sejarah tersendiri bagi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Bahkan, proklamasi dan eksistensi ‘Polisi Istimewa’ (yang kini menjadi nama jalan di seberang Grha WISMILAK) dilakukan sebelum terbentuknya POLRI.

Yousri Nur Raja Agam MH, seorang pemerhati sejarah dalam tulisannya yang berjudul “Proklamasi Polisi di Surabaya Mendahului Hari Lahir Polri” (www.rajaagam.wordpress.com) menulis bahwa  saat pendaratan armada kapal perang Sekutu di Tanjung Perak Surabaya, 25 Oktober 1945, situasi di kota Surabaya semakin mencekam.  Selain pemuda yang bergabung dalam PRI (Pemuda Republik Indonesia) dan BKR (Badan Keamanan Rakyat), polisi juga mempunyai peran yang cukup menentukan menjelang dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Ketika terjadi insiden bendera, 19 September 1945, polisi bergerak cepat, mereka menyatu dengan massa.
Bahkan di Surabaya, selain polisi umum ada pasukan PI (Polisi Istimewa) yang sangat disegani. PI adalah jelmaan dari CSP (Central Special Police). Apalagi saat bulan Agustus 1945 itu, hanya polisi yang masih memegang senjata. Sebab setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, penguasa Jepang di Indonesia membubarkan tentara PETA dan Heiho. Jepang memulangkan para pemuda yang dilatih dalam pasukan PETA (Pembela Tanah Air) dan Heiho dan senjata mereka dilucuti.
Karena polisi mempunyai peran yang istimewa dalam masyarakat, maka kondisi itu dimanfaatkan untuk melakukan pemantapan. Dalam buku “Sejarah Kepolisian di Indonesia”, disebutkan: di Surabaya, Komandan Polisi Istimewa Jawa Timur, Inspektur Polisi Kelas I (Iptu) Moehammad Jasin, memproklamasikan kedudukan kepolisian pada tanggal 21 Agustus 1945.
Dalam ejaan lama, Proklamasi Polisi itu tertulis:
“Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menjatakan Polisi sebagai Polisi Repoeblik Indonesia”.
Di bawahnya, tercantum: Soerabaja, 21 Agoestoes 1945. Atas Nama SeloeroehWarga Polisi: Moehammad Jasin – Inspektoer Polisi Kelas I.
Jadi, di Surabaya, Kepolisian Republik Indonesia lahir mendahului keberadaan polisi secara resmi di Indonesia yang ditetapkan sebagai Hari Bhayangkara, 1 Juli 1946.

Era 19932009


Graha Wismilak Tempo Doeloe (Foto th. 1978)

Gedung Grha Wismilak mula-mula adalah bangunan bergaya kolonial dua lantai dan diperkirakan dibangun pada tahun 1920an dan merupakan situs cagar budaya yang dilindungi pemerintah kota Surabaya. Gedung tersebut  berada di pojok jalan antara Jalan Darmo dan Jalan Dr. Soetomo, Surabaya. Bila diperhatikan dari luar,  fasad  gedung bercat putih itu seolah hanya satu lantai.  Di dindingnya terdapat ornamen jendela seni kaca patri bersegi lima yang  cantik.

Lantai pertama gedung terbuat dari batu alam, sedangkan lantai kedua berlantai kayu. Pada jaman itu gedung dua lantai sangat langka.  Total luas gedung asli adalah 999,89 meter persegi yang terdiri dari  lantai satu  seluas 495 meter persegi. Sedangkan lantai dua 504,64 meter persegi.

Menurut Umu Inaratun, Staf Legal yang akrab disapa Mbak Nana, gedung tersebut dipindahtangankan ke Wismilak pada tanggal 3 Juli 1993 dari ahli waris. Dengan demikian kuat dugaan bahwa sebenarnya gedung lama ini adalah milik pribadi, namun kosong beberapa lama sehingga kemudian difungsikan oleh polisi.

Bila dilihat dari depan, pintu utama  menghadap ke sudut jalan.  Di lantai satu, dari pintu utama, bila berjalan lebih jauh akan ditemukan empat  ruangan yang luas. Saat ini keempat ruang tersebut difungsikan sebagai musholla, tempat terima tamu, dan ruang kantor.
Untuk menuju lantai dua, ada satu tangga yang terbuat dari kayu dengan pegangan besi. Begitu sampai di atas akan tampak jelas lantai kayu yang sampai saat ini masih terawat baik. Di lantai dua, saat ini ditempati Field Marketing Sub Division, Marketing Service Department dan EDP Department. Yang menarik dari lantai dua adalah adanya selasar, semacam teras, yang dapat dipakai untuk menyaksikan lalu lintas di jalan Darmo maupun jalan Dr. Soetomo.

Gedung Baru, sejak 9-9-9

Grha Wismilak (foto : Bambang Gunawan)

Gedung baru diresmikan sejak 9 September 2009 oleh Bapak Willy Walla selaku Presdir PT. Wismilak Inti Makmur. Gedung baru ini berlantai empat dengan tambahan lantai atap dan top floor. Lantai satu seluas 533,61 meter persegi, sedangkan lantai dua sampai empat berluas 583,86 meter persegi. Sedangkan luas lantai atap 522,8 meter persegi sementara top floor  seluas 137 meter persegi.

Desain arsitektur gedung baru, mengikuti gedung lama. Tidak hanya mengikuti tetapi juga bersambung dengan gedung lama. Sangat harmonis. Gedung baru adalah hasil rancangan Endramukti Design Associates bulan Juli 2003 yang sangat tertib arsitektur. Walhasil orang awam tidak bisa membedakan lagi mana  gedung lama dan mana yang baru. Apalagi hal itu ditambah dengan taman yang indah disepanjang pinggir pagar jalan menuju area parkir di lantai basement sebagai pemersatu kedua gedung..
Area parkir Grha Wismilak sendiri seluas 837,41 meter persegi, termasuk basement. Yang menarik, area parkir outdoor mirip sebuah panggung luas.
Saat ini gedung empat lantai yang pembangunannya dikerjakan oleh PT. Jatim Mustika Sarana Steel sejak Juli 2003 itu baru difungsikan sebagian. Lantai satu ditempati kantor Management Members,  dan Chief Personal, PGA & HRD Department serta sebuah ruang makan. Sementara lantai  dua, ditempati Sales Division dan Marketing Division serta ruang meeting. Lantai tiga dan lantai empat untuk sementara waktu belum difungsikan.
Bila eksterior gedung dominan warna putih, tidak demikian dengan interiornya  yang didominasi warna hijau muda khas WISMILAK.  Warna hijau yang lebih tua tampak pula di kusen pintu dan jendela yang terbuat dari aluminium. Bahkan warna hijau menjadi pilihan batu granit yang membalut lift.   Sebuah paduan yang serasi. Apalagi ditambah adanya dua buah relief batu alam.  Relief yang tertempel di dinding koridor penghubung bangunan asli dan bangunan baru tersebut menggambarkan musim panen.
Tentu,  yang membuat para karyawan Grha Wismilak nyaman adalah adanya lift  yang berada di tengah gedung baru. Tidak hanya itu. Kenyamanan para karyawan bertambah karena peran lebih dari 6 orang karyawan cleaning service yang menjaga kebersihan lantai dan closet  setiap hari.  Maka tidak mengherankan gedung setinggi 35,69 meter itu  menjadi kebanggaan seluruh insan WISMILAK dan kota Surabaya. Terbukti, berbagai pameran (lukisan, foto tempo dulu dan batik), talkshow,  serta kunjungan tamu lokal dan mancanegara mulai mengalir ke Grha Wismilak. Bahkan Grha Wismilak pernah diajukan Dinas Pariwisata Jawa Timur untuk menjadi salah satu warisan budaya dunia (world culture heritage)  United Nations Educational Sientific and Cultural Organization (UNESCO) Asia – Pasifik yang berkantor di Bangkok, Thailand, Grha Wismilak diajukan untuk memperoleh UNESCO Asia Pasifik Heritage Award for Culture Heritage Conservation tahun 2011.(ATW)

Iklan

Tentang Anton Teguh

Please visit antonteguh.wordpress.com
Pos ini dipublikasikan di Grha. Tandai permalink.

16 Balasan ke DIBALIK SEJARAH GEDUNG GRHA WISMILAK

  1. joongieren berkata:

    Smoga bangunan2 kuno lainnya dpt dipertahankan jg spt ini… sayang jk mangkrak rusak bgtu sj..
    Ingat anak cucu ke depan agar tetap bs melihat dan merasakan keindahan dan keunikan bangunan2 tsb.
    Bagi pihak2 terkait.. smoga dpt bekerja sama untuk mempertahankan cagar budaya … jgn mempersulit, jgn mengedepankan egoisme semata… tp pikirkanlah untuk anak bangsa ke depan..
    Smoga semua sadar, hidup cm “numpang minum” sebentar, perbanyaklah hal yg baik dan berguna bagi lingkungan sekitar.. MERDEKA !!!

  2. marisa natalia berkata:

    Mau tanya tentang struktur organisasi PT. Wismilak Inti Makmur,bisa gak?

  3. slamet santosa berkata:

    kapan ya bisa liat graha wismilak…salah satu impian dr sekian impian

  4. bela adysti berkata:

    klo mau apply lamaran spg wismilak ditujukan kmn yahh ??

  5. Ragowo Herdy S berkata:

    Semoga Gedung Ini bisa dijaga terus oleh pemerintah agar bangunan ini tidak rusak

  6. amik berkata:

    Semoga gedung – gedung yang lain bisa terawat seperti gedung GRHA WISMILAK, saya tinggal di kota Yogyakarta, banyak sekali gedung – gedung bersejarah yang tidak terawat serta sekarang berubah jadi bangunan yang modern, saya sendiri kurang tahu kenapa gedung yang sudah menjadi cagar budaya bisa berubah menjadi gedung modern.
    semoga GRHA WISMILAK bisa menjadikan contoh untuk pemerintah agar dapat melestarikan gedung2 yang lainnya khusunya di Yogyakarta di mana tempat saya tinggal.

  7. Rina Kristy berkata:

    Luar biasa mengagumkan sy tiap hari lewat dan tiap hari saya selalu menenggok ke gedung wismilak ketika trafic light merah.dalam hati bertanya berapa ya umur gedung ini desaignnya unik dan bersahabat tidak ada kesan seram walau dalam hati nggak tau berapa usia gedung tersebut namun di lihat dari bangunanya jelas ini bangunan yg usiannya bs jadi ke dua orang tua saya jua lewat.Dan ketika sy tanpa sengaja bembika dan berkujnung di Blog ini Alhamdulillah saya dapat jawabab atas kekagumananku atas gedung Wismilak. Untuk pemkot sby….sebaiknya mejadikan ini salah satu contoh menjaga cagar Budaya jangan cagar budaya di hancurkan dan di ganti dengan bangunan baru utk Mall dan perkantoran.Dan yg sangat Penting sy bisa bercerita dengan putra tersayang saya tentang Gedung Wismilak.kebetulan saya tinggal di pandegiling tidak jauh dari gedung Wismilak.

  8. Sally Hartono berkata:

    Senang banget lihat bangunan Graha Wismilak, Apakah Graha Wismilak terbuka utk umum, maksud sy apakah bisa dikunjungi oleh kelompok2 kecil…..terima kasih untuk info nya

    • Rencana Uang berkata:

      Yth. Ibu Sally Hartono yang baik,

      Terimakasih sudah berkunjung ke blog kami. Silahkan Ibu untuk mengunjungi kami secara berkelompok. Mohon telepon terlebih dahulu ke 031-2952899 untuk perjanjian waktunya.

  9. Sugiono Gondokusumo berkata:

    Tolong tanya, apakah di Graha Wismilak, selain memamerkan foto2 Soerabaia tempo doloe, apakah juga mendisplay produk rokok Wismilak dari waktu ke waktu yang dibuat selama ini sama halnya yang saya lihat di museuim H O S ? Sebetulnya saya juga mempunyai satu album foto2 Soerabaia tempo doloe peninggalan hasil bidikan opa / kakek saya. Sebagian foto asli dan sebagian repro hasil dari barter. Tetapi saya lebih fokus mengumpulkan / koleksi rokok. Sebetulnya saya ingin melengkapi / membeli rokok yang diproduksi oleh Wismilak yang saya belum punya, tetapi yang saya inginkan rokok yang masih belum ada PHW nya. Apakah saya bisa membelinya ditempat bapak ?

    Terima Kasih,
    anton ( sugiono gondokusumo )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s